Rabu, 09 Juli 2014

ULASAN DEA SALSABILA AMIRA TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA MENUJU MILENIUM 2015

ULASAN DEA SALSABIRA AMIRA (MHSW MANAJEMEN S1 FEB / GLOBAL YOUTH AMBASSADOR OF A WORLD AT SCHOOL UNITED NATION 2014) TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA MENUJU MILENIUM 2015 (Updated: 14-05-2014 08:31 WIB) http://www.mercubuana.ac.id/newsx.php?mode=b
aca&pct_no=964&l= Indonesia sebagai negara kepulauan dari Sabang sampai Merauke, merupakan negara berkembang yang ditandai dengan pertumbuhan diberbagai aspek, dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, komunikasi dan informasi. Pendidikan merupakan senjata dalam memajukan suatu bangsa, salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini adalah keaksaraan. Saat ini terdapat 57 juta anak anak di seluruh dunia yang tidak mendapatkan hak atas pendidikan dasar dan terdapat 2,5 juta anak Indonesia yang putus sekolah. Mayoritas penduduk Indonesia memang sudah melek aksara. Tetapi, menurut badan pusat statistik sebanyak 12,8 juta penduduk Indonesia masih buta aksara. Padahal tinggi rendahnya tingkat buta aksara suatu bangsa menunjukkan kualitas pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa tersebut. Keaksaraan saat ini menjadi hal yang penting, dimana tingkat melek aksara dijadikan sebagai salah satu faktor dari variabel pendidikan yang dipakai untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Menurut laporan UNESCO tahun 2006, masalah buta aksara telah menjadi persoalan yang terjadi hampir di semua negara atau di 203 negara yang dilaporkan oleh UNESCO. Pria Gunawan, Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan hingga kini sebanyak 3,6 juta warga Indonesia masih buta aksara. Provinsi yang memiliki warga buta aksara paling banyak adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebanyak 16,48%, Nusa Tenggara Timur 10,13%, Sulawesi Barat 10,33%, Papua 36,31%. Sedangkan Provinsi Jawa Timur jumlah warga yang buta aksara sebesar 7,87%. Persentase rata-rata nasional ketunaksaraan usia 15-59 tahun secara nasional berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010 mencapai 5,02% dari jumlah penduduk di Indonesia yakni sebanyak 7,5 juta jiwa. Masih tingginya angka buta aksara di Indonesia karena pemerataan keaksaraan di masing-masing daerah tidak sama. Diharapkan semua pihak ikut berpartisipasi untuk menyukseskan pendidikan keaksaraan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah buta aksara telah menjadi masalah global yang sampai saat ini masih belum sepenuhnya tuntas. Oleh karena itu, buta aksara harus diberantas untuk mencerdaskan sekaligus mensejahterakan rakyat. Buta aksara adalah masalah yang sangat serius karena jika seseorang tidak berkemampuan untuk membaca dan menulis akan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. UUD 1945 mengamanatkan kepada semua warga negara untuk memberantas buta aksara sesuai dengan tujuan Negara yang tertuang didalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Juga terdapat pada BAB XIII PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN pasal 31 ayat 1 yang berbunyi Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Secara nasional program pemberantasan buta aksara telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 60-an. Upaya tersebut antara lain Pemberantasan Buta Huruf (PBH), program kejar paket-A dan paket OBAMA (Operasi Bhakti ABRI Manunggal Aksara), fungsional (KF) dan lainnya. Namun upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG) bagi masyarakat buta aksara tersebut belum sepenuhnya efektif. Hambatannya antara lain adalah kurangnya motivasi masyarakat buta aksara. Hal ini dapat dilihat dari kurang bersemangatnya masyarakat ketika mengikuti program yang berkaitan dengan pemberantasan buta aksara. Selain itu metode dan media pembelajaran yang kurang menarik serta kurang tepat. Mengingat warga buta aksara kebanyakan berusia dewasa. Upaya tersebut perlu didukung dengan media pembelajaran yang dapat menarik minat serta memudahkan masyarakat buta aksara untuk belajar CALISTUNG. Program keaksaraan dimaksudkan untuk mengurangi jumlah buta aksara, dimana program ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang buta aksara. Ditinjau dari latar belakang ekonomi, warga belajar program KF berasal dari kelompok miskin dan marjinal, dan secara geografis mereka berasal dari daerah terpencil atau masyarakat pinggiran seperti pedesaan. Pada umumnya warga belajar yang buta aksara dan mengikuti program keaksaraan fungsional terdiri dari dua karakteristik, yaitu yang berasal dari buta aksara murni (sama sekali tidak dapat membaca, menulis dan menghitung) dan mereka yang di DO (Drop Out) dari Sekolah Dasar (setara SD/MI) kelas 1-3. Mereka sebagian besar bisa mengenal aksara namun tidak bisa mengaplikasikannya kedalam sebuah kalimat sederhana, mereka inilah yang memerlukan layanan pendidikan keaksaraan. Menurut wikipedia (2007), Buta huruf merupakan ketidakmampuan seseorang dalam mengenali huruf (membaca) dan angka (menghitung) serta membaca kalimat sederhana. Masyarakat yang buta aksara adalah masyarakat yang tidak mempunyai kemampuan untuk membaca aksara Latin dan angka Arab, buta bahasa Indonesia dan pendidikan dasar. (Kusnadi:2006). Kriteria penduduk yang buta aksara terdiri dari buta aksara murni, yakni penduduk yang tidak bisa membaca sama sekali. Penduduk yang mengenal huruf, tetapi tidak bisa merangkainya menjadi sebuah kalimat dan yang terakhir adalah penduduk yang sudah bisa membaca kalimat sederhana, tetapi tidak dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua pihak harus ikut berpartisipasi. akademisi harus berperan aktif untuk memberantas masalah buta aksara ini, pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah sedang bekerja keras untuk mencapai target tujuan pendidikan milenium yang telah ditetapkan oleh PBB, target pendidikan milenium PBB adalah memastikan pada tahun 2015 semua anak anak, baik laki laki maupun perempuan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara penuh di tiap negara dengan sejumlah indikator. Indikator itu adalah tingkat partisipasi pendidikan dasar, proporsi kelulusan, dan angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun. Jika kita lihat fakta yang ada saat ini di Indonesia, target pendidikan milenium 2015 masih belum di garap secara matang, di wilayah papua saja terdapat 900.000 orang yang buta huruf dan 80% nya adalah penduduk di usia produktif. Menurut data yang dilansir oleh Sekretaris Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran di Papua, Protasius Lobya, rata rata jenjang sekolah yang dijalani masyarakat Papua hanya mencapai kelas 1 SMP saja. Pemerintah telah melakukan upaya pemberantasan buta aksara sejak tahun 60-an. Kegiatan tersebut menekankan pada peningkatan kemampuan membaca, menulis dan berhitung masyarakat buta aksara. Untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat buta aksara yang multi level (mempunyai beragam kemampuan keaksaraan) tentunya membutuhkan media pembelajaran. Para pengajar pada umumnya kesulitan untuk menyampaikan materi karena usia peserta didik yang sudah dewasa. Maka dari itu dibutuhkan media pembelajaran yang sesuai bagi mereka. Identifikasi masalah usia masyarakat yang buta aksara pada umumnya adalah usia dewasa. Sehingga diperlukan konsep yang tepat bagi media pembelajaran masyarakat buta aksara yang berusia dewasa. Adanya kesulitan pengajar dalam menyampaikan materi. Metode dan media pembelajaran yang sudah ada kurang menarik dan kurang efektif. Media pembelajaran yang ada hanya bersifat satu arah dan kurang memberikan peran peserta didik dalam proses pembelajarannya Sekali kau belajar membaca, selamanya kau akan merdeka, kata-kata itu diucapkan oleh Frederick Douglass selaku pejuang penghapusan perbudakan (abolisionisme) di Amerika Serikat. Douglass mengakui, kemampuan membaca telah mengantarkannya berhasil keluar dari perbudakan. Negeri kita, Indonesia, juga pernah mengalami penjajahan selama ratusan tahun. Kartini menggambarkan masyarakat terjajah ini tidak ubahnya hutan rimba yang gelap gulita. Tetapi Kartini tidak pasrah dengan keadaan gelap-gulita itu. Ia sangat menyadari, bahwa keadaan gelap-gulita itu bisa diterangi dengan obor pengetahuan dan pencerahan. Karena itu, ia selalu berusaha untuk memajukan pengajaran bagi kaum pribumi. Semangat Kartini sangat gampang ditemui di setiap ruas pemikiran para pejuang kemerdekaan Indonesia. Makanya, tidaklah mengherankan bila salah satu tujuan nasional Kemerdekaan Indonesia. Maka saat Proklamasi Kemerdekaan baru usai dikumandangkan, pemerintahan Soekarno tidak hanya menyerukan mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga memerintahkan menenteng pena dan buku untuk memberantas buta-huruf di kalangan rakyat Indonesia. Dimulai pada tanggal 14 Maret 1948, Bung Karno meluncurkan program Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Padahal, saat itu Indonesia masih berjibaku dalam perang melawan kolonialisme Belanda. Mengenai hal itu, Bung Karno mengatakan: bukan saja kita menang di medan peperangan, tetapi juga di dalam hal memberantas buta-huruf kita telah mencapai hasil jang sangat menjugemaken dan itu adalah pula salah satu great achievement. Oleh karena itu Dea S. Amira (mahasiswa Manajemen FEB UMB) bersama seluruh perwakilan dari 100 negara lain di dunia, berjuang untuk bisa membantu perwujudan dari target pendidikan milenium 2015 dan pendidikan dasar yang berkelanjutan dengan memberikan kualitas pendidikan dasar yang layak bagi anak anak di dunia terutama di negara Indonesia. Sebagai Duta dari Indonesia untuk Global Youth Ambassador of A world at School UN, yang baru saja diresmikan pada tanggal 1 April 2014 oleh Sekretaris Jenderal PBB, Mr. Bank Ki Moon dan utusan khusus PBB untuk pendidikan global, Mr. Gordon Brown. Sebelum terpilih menjadi Global Youth Ambassador, Dea S. Amira memiliki sebuah pergerakan sosial yang diberi nama Uniting As One, berdiri pada bulan Mei 2013. Pergerakan ini dikhususkan untuk membantu anak anak yang kekurangan di Indonesia, seperti anak jalanan, anak difable dan anak anak penderita kanker. Namun fokus utama kami adalah membantu menyelesaikan permasalahan pendidikan dasar anak jalanan. Sejauh ini pergerakan sosial tersebut telah membantu anak anak jalanan di 3 kota yaitu Jakarta, Denpasar dan Surabaya. Dengan mengajar akan banyak mendapatkan modal sebagai bekal soft skills, saat masuk ke dunia kerja dan setelah terpilih menjadi Global Youth Ambassador, makin meyakinkan Dea S. Amira bisa berjuang untuk pendidikan anak anak jalanan di Indonesia dan membantu mengurangi angka buta huruf bagi anak anak Indonesia di wilayah terpencil dengan cara memberikan pendidikan yang layak melalui pengajaran tentang dasar membaca, menulis dan menghitung matematika. Impian Dea A. Amira adalah melihat fasilitas serta infrastruktur sekolah yang apik di tiap wilayah terpencil di negeri ini, serta pendidikan yang merata bagi seluruh anak bangsa. Keyakinannya jika para pemuda dan seluruh masyarakat bahu membahu membantu pendidikan di negeri ini, serta memastikan bahwa pendidikan dasar untuk anak anak adalah Hak Mutlak, yang harus diperoleh oleh tiap warga negara, maka bersama sama kita bisa membantu mewujudkan target pendidikan milenium 2015. Sekaligus mewujudkan generasi Emas Indonesia pada tahun 2030. Menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang maju karena pemuda pemudanya yang berkualitas. Jadi, kenapa tidak membuat hal ini menjadi kenyataan? ACTION BEGINS NOW, Join A World at School in campaign www.aworldatschool.org dan my movement campaign www.uaomovement.org or contact dea@uaomovement.org. (Biro Sekretariat Universitas & Humas / www.mercubuana.ac.id / humas@mercubuana.ac.id)

NASIONALISME & BUTA HURUF

14/09/2012 NASIONALISME DAN BUTA HURUF http://radiobuku.com/tag/buta-huruf/ Oleh: Muhidin M Dahlan Buta huruf itu aib. Ibu Negara Perancis Carla Bruni-Sarkozy juga sadar betul dengan itu. Dalam wawancara dengan harian La Tribune pada 2009 silam Bruni pernah meradang dengan rilis data terbaru yang menyebutkan tiga juta warga Perancis buta huruf. Pada saat yang sama Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional (sekarang: Depdikbud) mengeluarkan data total jumlah warga buta aksara 9,7 juta atau 5,97 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Carla berang. Ia pun mendirikan yayasan untuk menggalang dana, terutama sekali gelandangan, napi, dan kelompok masyarakat buta huruf. Istri Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengistilahkan tindakannya sebagai perang melawan buta huruf Jauh sebelum Carla marah-marah, kamus nasionalisme sudah menegaskan bahwa bagi negara berstatus merdeka buta huruf adalah aib. A Surjadi dalam buku Pembangunan Masyarakat Desa (1969) membuat pola pemberantasan buta huruf dari beberapa negara yang baru saja umumkan maklumat kemerdekaan. Simaklah kaum Komunis di Rusia sewaktu menumbangkan rezim Tsar pada 1917. Dalam dua tahun Lenin bikin perintah untuk menghilangkan kebutahurufan. Turki memulai kampanye pemberantasan butahuruf segera setelah Kemal Attaturk menjadi presiden. Perkembangan yang cepat dalam kerja pemberantasan buta huruf di India merupakan akibat langsung daripada pembentukan kekuasaan Kongres. Di Indonesia dan Ghana demikian juga. Pemberantasan buta huruf dilakukan setelah kemerdekaan nasional dimaklumatkan. Bagi pemerintah yang dipimpin kalangan nasionalis terpelajar dan revolusioner, buta huruf adalah aral yang merintangi kemajuan. Kata Lenin, “Seorang manusia buta huruf adalah di luar dunia politik.” Dan ajaran minimum adalah mengetahui abjad alfabet. Pemerintah nasionalis beranggapan orang-orang yang melek huruf hanyalah satu-satunya dasar yang sehat untuk membangun masa depan bangsanya. Sikap kaum nasionalis pada masalah buta huruf dimiliki pula ratusan orang-orang di pelbagai negara yang baru merdeka. Dengan usahanya jumlah orang-orang buta huruf yang berduyun-duyun untuk belajar makin bertambah, dan banyak orang-orang yang pandai baca tulis dikerahkan untuk mengajar sukarela. Semangat yang tumbuh dari gerakan kemerdekaan nasional berbarengan dengan gerakan pemberantasan buta huruf. Tanpa itu diragukan apakah kampanye pemberantasan buta huruf akan berhasil cepat. Dengan rangsangan-rangsangan usaha tersebut banyak juga yang tak mempergunakan kesempatan tersebut untuk belajar. Sebagian menganggap tak ada kegunaan belajar membaca. Yang lainnya lagi karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan sehari-harinya. Hukuman Penyandang Buta Huruf Sadar bahwa buta huruf menghambat kemajuan, maka disiapkan serangkaian hukuman bagi warga yang buta huruf atau tak mampu memperbaiki kualitas keberaksaraannya. Di Rusia, penolakan untuk ikut kursus pemberantasan buta huruf diancam hukum denda, kerja paksa, kehilangan kartu makanan, atau dikeluarkan dari persatuan dagang. Hukuman Tiongkok yang menolak program berantas buta huruf dikenai pajak yang diatur oleh Undang-Undang. Di Turki pemerintah mengumumkan bahwa lapangan kerja di pemerintah hanya tersedia bagi orang-orang yang dapat membaca dan menulis. Tidak bagi yang buta huruf. Sementara untuk kasus Indonesia bisa kita kutipkan Mass Education Handbook, “Pada kenyataannya kepentingan negara menuntut setiap warga negara memiliki kemampuan membaca dan menulis.” Karena itu dicoba jalan memaksa orang menjadi melek huruf dengan jalan perintah-perintah atau pengumuman. Bahwa setiap formulir diisi langsung oleh orang yang bersangkutan, dan memerintahkan setiap rumah dan tempat memakai papan nama. Dalam satu kecamatan di Jawa, misalnya, lulus dari ujian pemberantasan buta huruf merupakan salah satu syarat untuk memperoleh izin nikah. Pada masa pemerintahan Sukarno yg masih labil, penanggulangan tuna pendidikan waktu itu dikenal dgn pemberantasan buta huruf (PBH) atau kursus ABC. Bagian yang menangani buta huruf adalah Bagian Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1951, misalnya, disusun program Sepuluh Tahun Pemberantasan Buta Huruf dengan harapan semua penduduk Indonesia akan melek huruf dalam jangka waktu sepuluh tahun berikutnya. Namun, pada 1960, masih terdapat sekitar 40% orang dewasa yang buta huruf. Tahun 1960 dikeluarkan Komando Presiden Sukarno untuk tuntaskan buta huruf sampai tahun 1964. Hasilnya, 31 Desember 1964 penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf. (Ali, 2007) Di masa awal Orde Baru, Pembangunan Jangka Panjang Panjang Tahap I (PJP I) tahun 1969, buta huruf sudah menjadi titik sorot. Program seperti Program Paket ABC distimulasi untuk melawan aib buta huruf. Rupanya, usaha semesta itu tak pernah berakhir, sebagaimana di Perancis. Aib itu di tahun 2011 masih bertengger di angka 8,3 juta jiwa atau 4,79 persen dari jumlah penduduk Indonesia berusia 15-45 tahun. Dipublikasikan pertama kali Koran Tempo, 12 September 2012, “Pendapat”, hlm A

ANAK TKI DI PERKEBUNAN MALAYSIA

28/07/2012 SOEPENO BEBASKAN 50 RIBU ANAK TKI DARI BUTA HURUF http://radiobuku.com/tag/buta-huruf/ Jakarta Dengan nada optimis, Soepeno Sahid memulai cerita ketika menginjakkan kaki pertama kali di Sabah, Malaysia. Menjabat sebagai Konsul Jenderal sejak 2010 lalu, permasalahan menumpuk di kantornya terutama anak-anak TKI. ” Ada 400 ribuan TKI di sini. 50 ribu anak-anak mereka itu buta huruf semua,” kata Soepeno kepada detikcom di kantor KJRI Sabah, Lorong Kemajuan, Karamunsing, Kota Kinabalu Sabah, Malaysia, Jumat (27/7/2012). Pada awal dia menginjakan di perkebunan-perkebunan sawit, banyak anak-anak TKI ini sudah memakai HP. Namun saat mengisi surat keterangan mereka tidak bisa mengisinya. “Dari situ saya tahu mereka buta huruf,” ujar pria yang pernah bertugas di Papua New Guinea pada era 90-an ini. Mendapati realitas ini, dia lalu menggeber Konsulat Jenderal RI (KJRI) untuk membuat program mengajar bagi anak-anak Indonesia tersebut. Namun kendala muncul yaitu perizinan lembaga sekolah dari pemerintah Malaysia. “Kita tidak bisa asal mendirikan sekolah, ini negara orang,” kisah Soepeno. Lantas dia mulai menyusun strategi yaitu yang pertama dilakukan adalah mendatangi para pemilik perusahaan kelapa sawit. Soepeno lalu melobi perusahaan kelapa sawit ini untuk mengalokasikan dana Coorporate Social Responsibility (SCR) untuk dikucurkan bagi pendidikan anak-anak TKI ini. Langkah selanjutnya yaitu mempersiapkan sarana belajar, buku guru dan insentif guru. Karena alasan mendesak dan darurat, untuk guru cukup lulusan SMA sudah diperkenankan mengajar. “Asalkan bisa mengajar 3M yaitu membaca, menghitung dan menulis, silahkan mengajar. Mereka umumnya relawan dari TKI yang bekerja di sini,” bebernya. Selanjutnya dilakukanlah berbagai lobi antar pejabat kedua negara. Sehingga Kerajaan Malaysia mengizinkan lembaga Learning Center (LC) di berbagai penjuru Sabah. Momentum ini langsung bersambut dengan mendirikan LC hingga lebih dari 100 kelompok LC tetapi Pemerintah Malaysia baru meloloskan 6 LC. Diharapkan dengan adanya LC ini, ribuan anak-anak buta huruf bisa melek dan menjadi warga negara Indonesia yang baik. “Kalau untuk TKI, dari 400 ribu an orang, 90 persen bekerja di ladang sawit. Sisanya di bekerja di bagian konstruksi, manufacture, kilang/pabrik, jasa dan PRT,” kata Soepeno. (asp/ahy) *) detik, 28 Juli 2012 20/01/2011 DPR KECEWA TRAGEDI NOL BUKU DI INDONESIA BOGOR – Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di DPR RI prihatin dan kecewa terhadap Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang hingga saat ini belum memiliki blue print (cetak biru) pengembangan perpustakaan nasional. Mengingat saat ini, dalam hal membaca, Indonesia ada di peringkat 57 dari 65 negara di dunia, atau orang Indonesia dalam setahun hanya mampu membaca 27 halaman, atau terjadi tragedi nol buku di Indonesia. “Kami sangat prihatin sampai hari ini, PNRI belum memiliki blue print untuk mengembangkan perpustakaan tanah air, padahal blue print ini memiliki peran yang sangat penting untuk memajukan bangsa kita. Adanya cetak biru itu, diharapkan menjadi solusi untuk upaya meningkatkan budaya membaca masyarakat, sekaligus memajukan peradaban bangsa,” kata Rohmani dari FPKS, sebagaimana dalam siaran persnya yang diterima via surat elektronika, Kamis (20/1/2011). Dalam siaran pers itu disebutkan, pernyataan keprihatian FPKS itu dinyatakannya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X dengan pejabat PNRI di Gedung DPR RI pada Rabu lalu. Dijelaskannya, berdasarkan penilaian internasional yaitu Programme for International Student Assessment (PISA) Tahun 2009, dalam hal membaca, Indonesia berada diperingkat 57 dari 65 negara di dunia, di bawah Thailand (50) dan jauh dibawah Jepang (8). “Kami sedih, ternyata masyarakat kita rendah sekali minat membacanya. Dalam 365 hari rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 27 halaman. Atau, untuk membaca 1 halaman, masyarakat kita memerlukan waktu 2 pekan. Coba bandingkan dengan Jepang yang siswanya membaca 15 buku dalam 1 tahun. Inilah yang disebut tragedi nol buku,” tambah Rohmani. Rohmani juga menyesalkan tidak adanya langkah nyata dari PNRI. Laporan yang disampaikan pejabat PNRI dalam RDP tersebut masih normatif. Belum menunjukkan substansi dari masalah yang dihadapi. Hal ini karena PNRI belum memiliki cetak biru pembangunan perpustakaan nasional. “Saya melihat laporan ini bukan cerminan persoalan kita sekarang. Ada persoalan yang jauh lebih besar yaitu persoalan minat baca bangsa kita. Membangun perpustakaan harus seiring dengan upaya untuk membangkitkan minat baca. Jangan sampai perpustakaan hanya menjadi gudang buku karena ada yang mau berkunjung dan membaca buku di sana,” tukas Rohmani. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, Komisi X DPR RI mensepakati dibentuk Panitia Kerja (Panja) tentang perpustakaan dan minat baca. Panja ini akan bekerja untuk merumuskan cetak biru perpustakaan yang akan menjadi panduan dan grand strategy pembangunan perpustakaan nasional dan budaya membaca. Panja ini nantinya akan melibatkan beberapa departemen yang terkait dengan perpustakaan nasional. “Karena ini sangat penting untuk kepentingan bangsa, maka harus melibatkan departemen terkait. Seperti pendidikan nasional, pariwisata dan kebudayaan serta pemuda dan olah raga. Persoalan perpustakaan bukan hanya masalah infrastruktur atau pengadaan buku semata. Dan, yang jauh lebih penting adalah bagaimana meningkatkan minat bangsa ini,” kata Rohmani. Disamping itu ia juga menekankan agar pejabat PNRI memperhatikan daya serap anggaran yang masih lemah. Anggaran Rp 443 miliar itu masih tergolong kecil untuk persoalan sebesar itu. “Sayangnya, anggaran sekecil itu pun tidak terserap,” tegas Rohmani. Sumber: Portal Online Kompas, 20 Januari 2011

LITERASI MEMENANGI KEHIDUPAN

23/11/2010 LITERASI MEMENANGI KEHIDUPAN Sumber: Istimewa Sumber: Istimewa Oleh H Witdarmono http://radiobuku.com/tag/buta-huruf/ Awal abad XX ditandai oleh perang Rusia melawan Jepang (1904-1905). Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsushima 27-28 Mei 1905. Geoffrey Jukes, penulis The Russo-Japanese War 1904-1905, mengatakan, penentu hasil perang itu bukanlah teknologi, tetapi tingkat literasi. Hanya 20 persen personel militer Rusia bisa ”membaca dan menulis”. Akibatnya, banyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu) dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia sering salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sebaliknya, hampir semua tentara Jepang tahu ”membaca dan menulis”. Mereka mahir menggunakan persenjataan militer modern dan memanfaatkan infrastruktur intelijen militer secara benar. Jepang bahkan sudah memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman. Perang kerajaan Spanyol dan Inggris yang berakhir di Pantai Gravelines, Perancis, Agustus 1588, dimenangi oleh armada Inggris. Dalam bukunya, The Achieving Society (1961), David McClelland menulis, Inggris menang karena memiliki need for achievement (kebutuhan meraih keberhasilan) lebih tinggi daripada armada Spanyol. Salah satu penentu n-achievement (n-Ach) adalah corak sastra rakyat. Saat tingkat perekonomian Spanyol dan Inggris berada di puncak (tahun 1560-an), corak sastra rakyat Inggris tetap penuh kisah petualangan dan perjuangan. Namun, sastra rakyat Spanyol bergelimang kisah kemewahan dan hiburan. McClelland menyimpulkan, kisah perjuangan dan petualangan lebih mengembangkan tingkat n-Ach rakyat (McClelland, 1961, 1965). Literasi Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup. Kemampuan tentara Jepang memahami handbook peralatan perang, membaca peta, mendalami strategi, dan memodifikasi sistem telegraf nirkabel adalah gambaran literasi fungsional. Konsep maupun praksis literasi fungsional baru dikembangkan pada dasawarsa 1960-an (Sofia Valdivielso Gomez, 2008). Literasi dipahami sebagai ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah” (A Campbell, I Kirsch, A Kolstad, 1992). Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy). Ekologi media Meminjam terminologi Neil Postman, ekologi media di Inggris abad XVI menjadi faktor penentu tingginya tingkat n-Ach rakyat negeri itu. Postman menggambarkan ekologi media sebagai lingkungan informasi, yang mengarahkan munculnya berbagai jenis gagasan, sikap sosial, serta kemampuan intelektual tertentu (Postman, 1979). Seberapa jauh pengaruh interaksi manusia dengan media untuk menunjang hidupnya? Menurut Postman, sistem pesan yang kompleks dari media ikut menentukan cara berpikir, perasaan, serta tingkah laku manusia (Postman, ”Reformed”, 1970). Dari pemikiran ini, tingkat n-Ach tinggi dari masyarakat Inggris abad XVI merupakan hasil dari ekologi media yang dibangun oleh sastra rakyat waktu itu. Penelitian McClelland memperlihatkan bahwa diperlukan minimal 20 tahun untuk menggulirkan udara pesan perjuangan sehingga masyarakat menghirupnya (bdk McClelland, 101-102). Artinya, corak bacaan rakyat— atau ekologi media—baru berdampak 20 tahun kemudian. Literasi Indonesia Bagaimana dengan Indonesia? Dua alat ukur internasional, Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) maupun Programme for International Student Assessment (PISA) memperlihatkan tingkat literasi anak-anak Indonesia usia 9-15 tahun sangat rendah. PIRLS 2001 dan PIRLS 2006 mencatat bahwa kemampuan memahami dan keterampilan menggunakan bahan-bahan bacaan, khususnya teks dokumen, pada anak-anak Indonesia usia 9-14 tahun berada di peringkat lima terbawah. Tiga penelitian terakhir dari PISA (2000, 2003, 2006) menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia usia 15 tahun—usia akhir wajib belajar 9 tahun—dalam tiga macam literasi, yaitu kemampuan membaca (reading literacy), kemampuan menerapkan matematika untuk kehidupan praktis (mathematical literacy), serta kemampuan memakai sains dalam keterampilan hidup sehari-hari (scientific literacy), berada pada level 1. Ini berarti, anak-anak itu baru mampu menangkap satu dua tema dari sebuah bacaan dan belum bisa memakai teks bacaan untuk kepentingan yang lebih dalam, mengembangkan pengetahuan atau mengasah keterampilan. Literasi Malaysia Dalam 100 universitas terbaik di Asia 2010, Universitas Indonesia menduduki peringkat ke-50 dan Universitas Gadjah Mada ke-85. Namun, kita kalah dari Malaysia yang menempatkan lima universitas, yaitu Universiti Malaya (42), Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77), dan Universiti Teknologi Malaysia (82). Kualitas universitas di Malaysia sangat terkait dengan program Pemerintah Malaysia sejak 1996, yaitu bahwa tahun 2020 semua warga Malaysia sudah melek informasi (information literate) dan telah memiliki sarana lengkap untuk menjadi pekerja bermodal pengetahuan (knowledge workers). Didirikanlah perpustakaan dan pusat informasi publik di sekolah dan tempat umum. Para guru dan murid sekolah mendapat prioritas utama agar melek informasi, tahap lanjut dari reading literacy. Mereka dilatih mengakses, memanfaatkan, dan mengembangkan informasi dari buku, kamus, ensiklopedia, atau internet agar kreatif dan inovatif. Demi bonum commune masyarakat Malaysia, ekologi media dikelola dengan regulasi yang transparan (MAM Sani, IL Twombly, R Omar, 2005). Dampaknya, energi kreativitas media tidak dihabiskan untuk hiburan dan kisah kemewahan, tetapi lebih untuk bonum commune nasional. Salah satu hasilnya adalah seri TV Upin&Ipin (2007), produk ekologi media yang ikut mengatur pola pikir dan cara bersikap anak-anak Indonesia. Indonesia akan sulit memenangi perang melalui literasi tanpa meninjau ulang paradigma pengembangan literasi sistem pendidikannya. Yang tidak kalah penting adalah mengelola kembali ekologi media dengan ukuran bonum commune masyarakat Indonesia yang harus maju. Pencemaran polusi media, khususnya isi entertainment yang mengacaukan jati diri dan nalar, patut ditangani segera dengan kode etik dan etika. H Witdarmono, Wartawan, Penerbit Koran Anak BERANI, Jakarta Sumber: Kompas, 23 November 2010

CERITA MENYENTUH KARNA KETIDAKMAMPUAN TULIS BACA

27/03/2010 THE READER: AIB BUTA AKSARA http://radiobuku.com/tag/buta-huruf/ Sejauh mana seseorang akan bertahan memegang sebuah rahasia? Hanna Schmitz mengenggam kuat-kuat rahasianya hingga ajal tiba. Ia memilih menjalani sisa hidupnya dalam penjara dari pada membuka rahasia. Ini adalah rahasia yang tak ingin ia kuak meski hidupnya menjadi pertaruhan. Ia malu bila rahasia itu diketahui orang lain. Hanna tak mau seorangpun tahu bahwa ia buta huruf. Hanna seorang petugas kontrol tiket kereta trem di Jerman. Pekerjaannya saban hari adalah meminta tiket pada penumpang, kemudian melubanginya. Ia tak butuh ketrampilan baca tulis untuk melakukan itu. Dan tak seorang pun tahu rahasia itu. Hingga pertemuan dengan seorang bocah umur 15 tahun di sebuah sore yang hujan membawanya pada perkenalan dengan tradisi membaca. Bocah itu Michael Berg. Hanna menolong Mike ketika muntah di depan apartemennya, sepulang sekolah pada suatu sore. Pertemuan pertama itu membawa Hanna dan Michael pada pertemuan kedua lalu ketiga. Di pertemuan ketiga inilah, dua manusia beda umur 21 tahun itu malakukan persetubuhan. Pengalaman pertama bagi Michael. Dan sepanjang musim panas Michael membagi kesenangan baru bagi Hanna: membaca buku diantara persetubuhan. Hanna tak ingin Micahel tahu bahwa ia tak bisa membaca. Ia malu.“Aku lebih suka mendengarmu”, kilahnya. Maka Michael pun mulai membacakan buku demi buku. Dari The Odyssey, The Lady with the Little Dog, Adventures of Huckleberry Finn, hingga komik Tintin. Saban satu buku satu percintaan, begitu aturannya. “Bacakan, lalu kita bercinta”,kata Hanna. Membaca buku berhadiah persetubuhan itu pun menebar di ranjang, di meja makan, hingga di kamar mandi. Dan musim panas berlalu. Hanna mendapat promosi untuk bekerja di kantor, tidak lagi di atas trem. Itu berarti ia harus meninggalkan kota sekaligus meninggalkan kekasih yang tekun membacakan buku untuknya. Tepat dihari ulang tahun Michael, usai sebuah percintaan, Hanna pergi tanpa pamit. Perjumpaan mereka terjadi bertahun kemudian ketika Michael telah menjadi seorang mahasiswa fakultas hukum Universitas Heidelberg. Professor Rohl meminta mahasiswanya untuk mengamati sebuah persidangan. Itu adalah sidang yang sedang memproses kejahatan perang (Nazi) atas 6 orang terdakwa perempuan penjaga SS. Sebuah kebakaran menyebabkan 300 orang Yahudi meninggal dalam kamp konsentrasi karena pintu gereja tidak dibuka oleh penjaga SS. Salah satu diantara terdakwa itu adalah Hanna. Sidang menyudutkan Hanna. Lima orang kawannya yang lain mengatakan bahwa Hanna lah yang bertanggung jawab atas semua keputusan. Ia yang bertandatangan atas laporan daftar urutan pembinasaan orang-orang dalam kamp. Hanna menolak tuduhan itu. Setiap keputusan selalu disepakati bersama. Pengacara meminta Hanna membuktikan bahwa bahwa tulisan tangan dalam laporan bukanlah tulisannya. Sebuah kertas dan pulpen disodorkan padanya. Hanna terdiam. Tak bereaksi. Saat itulah Michael tahu bahwa Hanna sesungguhnya tak dapat membaca menulis. Ia mendapat alasan mengapa Hanna lebih suka dibacakan buku. Juga mengapa Hanna nampak bingung ketika membaca menu restoran. Dan mengakui bahwa ia tak dapat membaca menulis adalah aib bagi Hanna. Maka ia memilih mengakui bahwa dirinyalah yang menulis laporan itu. Kertas dan pulpen itu tak sedikitpun disentuhnya. Bagi Hanna, lebih baik ia dituduh membantai 300 orang dari pada harus mengakui bahwa ia buta huruf. Ia genggam rahasia itu baik-baik. Michael gusar. Ia tahu kebenarannya. Hanna tak menulis laporan itu, apalagi menandatanganinya. Menulis namanya sendiri pun Hanna tak mampu. Michael mengalami dilema. Satu sisi ia memiliki tanggung jawab moral untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Disisi lain ia harus menghormati Hanna yang sangat kukuh memegang rahasianya. Michael menghormati itu. Dan, Hanna mendapat vonis seumur hidup. Rahasia itu tetap terjaga. Selama Hanna dalam penjara, Michael telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Namun pernikaha itu tak berjalan lama. Michael memilih berpisah. Ada perasaan dari masa lalunya yang terus merundungnya dengan rasa bersalah. Pencerahan datang ketika Michael membuka beberapa buku lawasnya dan teringat percintaan dengan Hanna semasa ia bocah. Michael kemudian tergerak untuk membaca, merekamnya, dan mengirimkan kaset pada Hanna di penjara. Mendapati kiriman kaset-kaset buku itu, Hanna seperti menemukan semangat baru dalam penjara. Ia mendengarkan semua buku. Menanti kiriman baru saban minggu. Michael pun menghabiskan waktu dengan membaca berkardus-kardus bukunya. Semua dibaca, direkam, dikirimnya. Buku cerita lucu, novel, hingga komik. Hanna terbiasa mendengarkan. Selain kaset, ia juga dikirimi buku oleh Michael. Dari sana, ia belajar menulis. Ia mendengar kata ‘the’ dan ia dapati huruf-huruf yang membentuk kata ‘the’ dalam buku. Hanna menemukan sendiri metode belajar menulisnya. Ia mencari bunyi dan rangkaian hurufnya dalam buku. Perlahan, ia dapat menulis surat pendek. Ia kirimkan surat-surat untuk Michael, namun tak pernah berbalas. Meski kaset-kaset tepat dikirimkan Michael. Hingga masa pembebasan untuk Hanna tiba. Sebagai satu-satunya kenalan Hanna, Michael diminta Kepala Penjara utuk menjemput dan mencarikan tempat tinggal untuk Hanna. Setelah 30 tahun, pertemuan dua manusia yang memendam hasrat itu terjadi. Semua sudah berubah. Meski dinanti, namun pertemuan itu menguak luka masa lalu. Usai pertemuan, Hanna menggantung diri di kamarnya dengan menjadikan buku-buku sebagai pijakan. Ia selesaikan kebutaannya pada aksara dengan kematian. Sebuah kaleng teh berisi uang dan tabungan di bank ia tinggalkan untuk diberikan pada Ilana, salah seorang korban selamat. Uang itu kemudian disumbangkan untuk organisasi yang bergerak menangani buta huruf pada orang dewasa, terutama Yahudi. Rahasia itu terbayar sudah. Bagi Hanna, lebih memalukan mengakui dirinya buta huruf daripada mengakui ia telah membantai 300 nyawa. Dibawanya rasa malu itu ke kubur gelap tepat di ujung pencerahan yang ia dapati setelah mampu membaca-menulis.(Diana AV Sasa

BERBAGI TIDAK HARAP KEMBALI

PENDIDIKAN BACA TULIS Prapti Wahyuningsih | Kompas http://radiobuku.com/tag/buta-huruf/ ”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.” Doa itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak-anak tetangga. ”Tuhan mungkin ingin agar kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami lakukan,” ujar Ningsih, panggilannya. Tahun berganti, perjalanan hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan salah satu organisasi buruh. ”Saya mulai banyak membaca berbagai macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh. Mungkin karena saya adalah salah satunya,” kata Ningsih yang menjadi buruh sejak berusia 11 tahun. Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya. Hasil dari banyak membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas. ”Saya teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekadar gedung,” ujarnya. Sekolah hijau Ningsih lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel, Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar. Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung gelap dan sunyi. Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia tak bisa baca-tulis. Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. ”Tempatnya berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain,” ujarnya. Usaha Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk pertama kali, sang bandar ketahuan ”belangnya”. Tempat kedua Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada 2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia. Saat ia bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan. ”Itu artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi,” ujar Ningsih yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip. Sempat pulang ke Solo untuk merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap isu masyarakat dan lingkungan. Tinggal di kota besar membuatnya akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik muncul menjadi masalah. Berbekal keterampilan menganyam daun kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu kepada warga yang mau belajar. Dengan pinjaman uang dari Suster Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia terapkan. ”Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis,” kata Ningsih yang ikut mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia. Zakat sampah Ningsih kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau. Awal 2010 Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain. ”Saya sempat sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti semangat sekolah hijau sudah tertanam,” ujarnya. Maka, sejak Maret 2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil, warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak. ”Berbagi itu rupanya sudah menjadi hal langka,” kata Ningsih yang mengaku hidup dari bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga relatif mendapat sambutan hangat. Setelah usahanya membuat semakin banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Pada peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi bermakna bagi masyarakat. (Cornelius Helmy) Sumber: Kompas, 19 Agustus 2010